Paroki Katedral Tiga Raja

LATAR BELAKANG

Kondisi Obyektif

Perubahan status dari gereja paroki tiga raja menjadi gereja Katedral tiga raja sejak 18 April 2004.

Kapasitas gereja lama tidak dapat menampung banyaknya perkembangan jumlah umat yang sangat pesat. (Khusus kota Timika).

Tahun 1988      325 Orang

Tahun 2004      11.700 Orang

Kondisi fisik gereja lama sudah rapuh dan tidak memenuhi standar.

Tujuan Pembangunan

Terbangunnya RUMAH IBADAH yang memenuhi kebutuhan umat di Paroki Katedral Tiga Raja, sebuah bangunan Gereja yang menampakkan unsur Bilblis dan Anthropologis.

Bangunan gereja yang monumental sebagai sebuah Katedral : simbol tongkat kegembalaan Uskup.

Adanya suatu pusat kegiatan kehidupan rohani umat Katolik Keuskupan Timika.

Manfaat

Simbol kegembalaan dan persatuan umat Keuskupan Timika.

Menjadi tonggak gerakan PEMBANGUNAN IMAN dan MORAL Umat Keuskupan Timika.

Merupakan salah satu ASET DAERAH yang turut memperindah pusat kota : IKON TIMIKA.

Strategi Pembangunan

Sumber daya umat sebagai modal utama lebih dikedepankan (umat harus merasa memiliki).

Melibat-aktifkan seluruh komponen umat Katolik di semua tingkatan (Keluarga, Komunitas Basis, Stasi Wilayah, Kelompok Kategorial dan Paroki).

Terbuka bagi sumbangan yang datang dari pihak lain (Donatur) baik pihak Swasta maupun Pemerintah Pusat dan Daerah.

Managemen terbuka serta bertanggung jawab kepada umat dan pimpinan Keuskupan.

ASPEK BIBLIS-TEOLOGIS

TIGA RAJA atau TIGA ORANG MAJUS dari Timur bisa bertemu dengan Yesus, Maria dan Yosep, karena dituntun oleh Bintang (Mt 2: 2b), oleh karena itu, profil BINTANG sangat menonjol dalam bangunan gereja ini, yakni di beberapa tempat seperti :Empat arah mata angin Puncak Menara, Sisi kiri-kanan antara dinding dan atap, Lantai dan atap Main Entrance.

SALIB MENYATUKAN SEMUA JEMAAT YANG DATANG DARI BERBAGAI PENJURU dipandu BINTANG TIGA RAJA

ASPEK BUDAYA 1

Masyarakat Papua sangat familiar dengan Busur - Anak Panah. Oleh karena itu, Profil BUSUR (lingkaran bangunan bagian depan gereja) dan ANAK PANAH (menara tegak menjulang) sangat mendominasi desain bangunan.

ASPEK BUDAYA 2

Menara Katedral NEMANGKAWI (bahasa Amungme)

Nemang : Ruas Anak Panah
Kawi : Putih, Suci, Sakral

Pada bagian ujung anak panah yang digunakan untuk berperang, biasanya dioles racun putih yang mematikan … Kini setelah daerah ini menjadi wilayah yang kenal Tuhan, kebiasaan berperang bagi Umat Katolik Amungme BERHENTI.

Ujung Menara Nemangkawi Gereja Katedral, kini dihiasi Salib Stainless steel Putih, lambang Kedamaian dan Keselamatan, dengan sebuah pesan : Hiduplah dalam Damai…STOP PERANG!!!

ASPEK BUDAYA 3

Pada bagian DEPAN, nampak 2 model RUMAH ADAT.

  1. Main Entrance: Rumah masyarakat Pegunungan: Rumah Atap dan dinding yang terbuat dari papan belah dan biasanya diikat dengan tali / rotan.
  2. Bangunan Entrance kiri-kanan, terdapat 2 rumah adat masyarakat Pantai / Kamoro, namanya KARAPAU, yang di depannya terpancang Patung Leluhur Adat dan Leluhur Gereja yakni MBITORO.

PESAN TUNGGAL:

Gereja Katedral Timika dengan desain budaya ini, mencoba menghadirkan RUMAH masyarakat asli daerah ini.

Siapapun umat yang datang dan dari manapun asalnya, bila masuk dalam Gereja ini, masuk melalui rumah umat asli daerah ini, kemudian bergabung menjadi satu, bersekutu memuji Tuhan dalam Gereja yang SATU, KUDUS, KATOLIK dan APOSTOLIK.

ASPEK SOSIAL, EKONOMI, POLITIK

Sebagaimana BANGUNAN FISIK yang TINGGI, INDAH dan MEGAH. Umat keuskupan Timika hendaknya juga memperjuangkan BANGUNAN ROHANI yakni HIDUP MENGGEREJAnya yang juga TINGGI, INDAH dan MEGAH.

Sasaran yang hendak dicapai sesudah pembangunan gedung Fisik Gereja ini adalah: IMAN, HARAP dan KASIH umat keuskupan, hendaknya SEINDAH Bangunan Fisik Gerejanya. Kehidupan SOSIAL, POLITIK dan EKONOMI umyat hendaknya SETINGGI dan SEMEGAH Bangunan Fisik Gerejanya.

Galleri Katedral Tiga Raja